Mengintip ‘Mega IPO’ SUPA, Valuasi 2,7 Triliun Rupiah atau Jebakan Batman Investor Ritel?

Jakarta, mediahukumnews.com – IPO PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) menjadi magnet raksasa di pasar modal Indonesia. Bank digital yang ditopang oleh konglomerat Emtek, Grab, Singtel, dan KakaoBank ini siap meraup dana segar hingga 2,79 triliun rupiah. Angka fantastis, dukungan ekosistem super besar, namun valuasi yang kelewat tinggi memicu pertanyaan krusial, apakah ini peluang emas atau sinyal bahaya bagi investor ritel?

SUPA bukan bank digital biasa. Ia adalah proyek ambisius dari empat serangkai raksasa teknologi dan media yang ingin mendisrupsi lanskap perbankan nasional. Dengan ekosistem pengguna Grab dan OVO yang mencapai puluhan juta, potensi akuisisi nasabah by design sudah di depan mata.

Masa penawaran umum 10 hingga 15 Desember 2025 sedang berlangsung dengan harga final 635 rupiah per saham. Angka ini mencerminkan optimisme luar biasa dari pihak perusahaan dan penjamin emisi. SUPA resmi melantai di bursa saham Indonesia pada tanggal 17 Desember 2025.

Data yang dihimpun dari prospektus menunjukkan SUPA berhasil membukukan laba di tahun 2025, sebuah sinyal positif bahwa fase “bakar uang” mulai menemukan titik balik. Namun, analis pasar menyoroti metrik valuasi yang mencengangkan. Price-to-Earnings Ratio (PER) SUPA berada di kisaran 456,56x.

Valuasi SUPA ini bisa dikatakan premium sekali, jauh di atas rata-rata industri bank digital yang sudah listing. Bagi investor institusi, mereka membeli mimpi masa depan dan sinergi ekosistem. Bagi ritel, ini adalah pertarungan mental antara FOMO (Fear of Missing Out) dan rasionalitas fundamental.

Oversubscription alias kelebihan permintaan yang terjadi selama bookbuilding menjadi bukti nyata betapa panasnya minat investor. Namun, investor ritel harus sadar, jatah mereka mungkin hanya secuil. Skema penjatahan seringkali lebih menguntungkan investor institusi besar.

Di balik janji manis pertumbuhan eksponensial, terdapat juga risiko laten. Persaingan super ketat dimana ruang bank digital Indonesia sudah penuh sesak dengan pemain agresif seperti Bank Jago (ARTO), Allo Bank (BBHI), dan Seabank.

Kemudian profitabilitas jangka panjang. Mencetak laba di tahap awal berbeda dengan menjaga konsistensi laba di jangka panjang, terutama saat biaya akuisisi nasabah masih tinggi. Dan adanya harapan berlebihan (Hype). Valuasi tinggi seringkali didorong oleh hype semata, bukan fundamental yang kokoh. Jika ekspektasi pasar tidak terpenuhi dalam beberapa kuartal ke depan, koreksi harga bisa sangat tajam.

Dari hal-hal tersebut, bisa disimpulkan bahwa IPO SUPA adalah event pasar modal yang menarik untuk diamati. Ini merepresentasikan kepercayaan investor terhadap masa depan ekonomi digital Indonesia. Namun juga akan membuktikan apakah emiten SUPA akan menjadi bintang baru di IHSG atau hanya euforia sesaat. ***