Jakarta, mediahukumnews.com – EKONOMI Indonesia memasuki Februari 2026 dengan rapor yang cukup kontras, sebuah perpaduan antara stabilitas domestik yang kokoh dan tekanan eksternal yang mulai menggigit. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat menjadi 5,4 persen pada tahun ini, ditopang oleh lonjakan permintaan domestik dan sinergi kebijakan fiskal-moneter yang lebih agresif. Angka ini membawa angin segar di tengah kenaikan inflasi tahunan yang menyentuh 3,55 persen per Januari 2026. Level tertinggi sejak pertengahan 2023. Meskipun angka tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,8 persen.
Di balik angka pertumbuhan tersebut, struktur ekonomi nasional sedang mengalami pergeseran fundamental menuju sektor energi baru terbarukan (EBT) dan hilirisasi. Transisi energi kini bukan sekadar komitmen iklim, melainkan motor investasi baru yang diprediksi mampu menarik modal hingga 1.682 triliun rupiah. Pemerintah secara strategis mulai mengalihkan fokus investasi pada proyek panas bumi, hidro, dan tenaga surya yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan baterai (BESS), yang kini dinilai lebih kompetitif secara biaya dibandingkan pembangkit berbasis fosil. Langkah ini menjadi krusial untuk menjaga kemandirian energi jangka panjang sekaligus memenuhi target pertumbuhan yang ambisius.
Namun, tantangan nyata muncul dari sisi pasar modal dan kinerja ekspor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan signifikan menyusul penurunan prospek kredit nasional menjadi “negatif”, yang memicu aksi jual oleh investor asing. Di sisi lain, meski Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut hingga Desember 2025 dengan total surplus tahunan mencapai 41,05 miliar dollar Amerika, moderasi permintaan global dan hambatan tarif di tahun 2026 diprediksi akan menekan kinerja ekspor non-migas. Stabilitas nilai tukar Rupiah juga tetap menjadi perhatian, dengan proyeksi pergerakan di kisaran 16.100 rupiah hingga 16.400 rupiah per dollar Amerika hingga akhir tahun.
Interpretasi atas kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang menempuh jalur “stabilitas defensif”. Pertumbuhan yang stabil di kisaran 5 persen memang tercapai. Namun untuk mencapai akselerasi lebih tinggi, ketergantungan pada konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah harus mulai diimbangi dengan diversifikasi investasi yang lebih luas di luar sektor pengolahan logam. Keberhasilan tahun 2026 akan sangat bergantung pada seberapa cepat realisasi stimulus fiskal dan kemampuan pemerintah dalam menavigasi ketidakpastian rantai pasok global sembari menjaga daya beli masyarakat di tengah tren kenaikan harga. ***










