China Menguat Saat Eropa Terpuruk, Titik Balik Ekonomi Global

Jakarta, mediahukumnews.com – KETIKA pabrik-pabrik di Eropa perlahan meredup, dan angka manufaktur kembali terperosok ke zona kontraksi, China justru melangkah ke arah berlawanan. China memperkuat instrumen hukum perdagangannya. Dua arah yang saling bertolak belakang ini, bukan sekadar kebetulan statistik. Ini merupakan sinyal keras, bahwa peta kekuatan ekonomi global tengah mengalami pergeseran struktural yang lebih dalam dari sekadar siklus naik-turun ekonomi.

Data terbaru menunjukkan, sektor manufaktur Eropa terutama di Jerman dan negara inti zona euro, mengakhiri tahun 2025 dalam kondisi melemah. Biaya energi yang tinggi, suku bunga ketat, dan ketidakpastian geopolitik membuat industri kehilangan daya dorongnya. Dalam konteks ini, krisis Eropa bukan lagi soal inflasi semata, melainkan erosi daya saing industri yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pertumbuhan kawasan tersebut.

Di saat bersamaan, Beijing mengesahkan revisi undang-undang perdagangan luar negeri, yang memberi negara itu ruang lebih besar untuk melindungi kepentingan ekonomi nasionalnya. Langkah ini, memperlihatkan kesiapan China menghadapi eskalasi perang dagang dan fragmentasi ekonomi global. Alih-alih menunggu tekanan eksternal, China memilih menata ulang arsitektur perdagangannya sebagai bentuk antisipasi jangka panjang. Sebuah pendekatan yang kontras dengan respons defensif Eropa.

Pertarungan ini sejatinya bukan antara China dan Eropa semata. Pertarungan ini antara dua model ekonomi. Eropa terikat pada stabilitas moneter dan konsensus politik yang lamban, sementara China bergerak dengan kebijakan terpusat yang agresif dan adaptif. Akibatnya, ketika dunia memasuki era deglobalization light yaitu perdagangan tetap berjalan namun dengan proteksi meningkat, China terlihat lebih siap membaca arah angin.

Hal ini menimbulkan implikasi yang luas. Rantai pasok global berpotensi semakin bergeser ke Asia, investasi industri berat bisa menjauhi Eropa, dan negara-negara berkembang dipaksa memilih poros ekonomi baru. Jika tren ini berlanjut, krisis manufaktur Eropa bukan hanya persoalan regional, melainkan ancaman terhadap keseimbangan ekonomi global yang selama ini bertumpu pada Barat sebagai pusat industri.

Pertanyaan besarnya, kini bukan apakah dunia sedang berubah, melainkan siapa yang paling siap menghadapi perubahan itu. Ketika China menguatkan fondasi perdagangannya, dan Eropa masih bergulat dengan krisis internal, ekonomi global tampaknya sedang memilih pusat gravitasinya yang baru. Perlahan, namun pasti. ***