13 Calon Emiten Antre IPO, BEI Masuki Penghujung Tahun dengan Pipeline Terpadat

Bursa Efek Indonesia (BEI) memasuki penghujung tahun dengan atmosfer yang semakin dinamis. Sebanyak sekitar 13 calon emiten tengah mengantre dalam pipeline IPO dan bersiap menuju tahap pencatatan, meski hanya ‘sebagian’ yang dinilai siap melantai sebelum tutup tahun. Di sisi lain, investor ritel dan institusi terus mengamati pergerakan pasar, terutama karena stabilisasi harga, verifikasi prospektus, dan strategi penghimpunan dana emiten kini menjadi faktor krusial yang menentukan momentum IPO.

Jakarta, mediahukumnews.com – Hingga pertengahan mendekati akhir November, data resmi dan peliputan pasar mencatat, sekitar 13 perusahaan saat ini berada dalam pipeline penawaran umum perdana (IPO) di BEI. Sejumlah calon emiten diperkirakan bisa melanjutkan proses pendaftaran ke OJK dan menyelesaikan prospektus sebelum akhir tahun. Sementara itu, realisasi pencatatan sepanjang tahun, telah mencapai lebih dari 20 emiten yang sudah melantai, dengan nilai dana yang dihimpun mencapai belasan triliun rupiah. Fenomena ini menunjukkan, bahwa meskipun jumlah emiten belum menyentuh target ambisius tahunan, nilai penghimpunan modal tetap signifikan.

Angka pipeline yang padat, tidak otomatis berarti gelombang pencatatan dalam hitungan minggu. Ada proses verifikasi prospektus oleh OJK, penyesuaian harga, dan pertimbangan kondisi pasar, yang menyebabkan banyak calon emiten menunda pencatatan menunggu momentum lebih baik. BEI dan regulator juga menegaskan fokus pada kualitas emiten. Artinya, perusahaan dengan tata kelola dan prospek bisnis yang jelas, diprioritaskan guna melindungi investor publik. Di prakteknya, beberapa perusahaan yang sudah memasukkan prospektus menunjukkan jadwal indikatif yang bisa bergeser ke kuartal berikutnya.

Bagi investor ritel, sisa tahun ini menawarkan peluang memilih emiten yang ‘terverifikasi’ dengan prospektus terbuka. Namun risiko volatilitas di hari pertama pencatatan, tetap tinggi untuk emiten-perusahaan baru. Investor institusi cenderung menilai nilai fundamental dan struktur alokasi saham (placement, rencana penggunaan dana) sebelum masuk, sehingga emiten dengan porsi ritel besar berpotensi menghadapi fluktuasi permintaan. Di sisi korporasi, pencatatan akhir tahun masih menarik sebagai strategi penghimpunan modal untuk ekspansi atau deleveraging, asalkan harga dan timing direncanakan matang.

Praktisnya, diperkirakan hanya antara 3 hingga 6 perusahaan dari pipeline, bisa benar-benar melantai sebelum tutup buku tahun ini. Hal tersebut tergantung verifikasi OJK dan kondisi pasar. Sementara sisanya kemungkinan bergeser ke kuartal I dan II 2026.

Saat ini ada 2 calon emiten yang sudah resmi akan melantai di bursa saham. PT Abadi Lestari Indonesia, Tbk (RLCO), dan PT Super Bank Indonesia Tbk, (SUPA). Investor ritel sebaiknya menunggu prospektus lengkap dan pengumuman harga efektif, serta menggunakan checklist due diligence sederhana untuk mengungkap model bisnis, pendapatan historis, manajemen, serta alokasi dana IPO. ***